Kamis, 17 Januari 2013

Pertambangan dan Nasib Lingkungan Indonesia


Mai, panggilan akrab Siti Maimunah, sudah 11 tahun terakhir malang melintang di dunia pertambangan dan bergiat di Jaringan Advokasi Tambang (JATAM). Saat ini Mai juga menjadi koordinator Civil Society Forum (CSF).Hadir dan berbicara panjang lebar di Obrolan Sabtu Seru, tanggal 11 Februari 2012, mengenai pertambangan serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan Indonesia akibat eksploitasi yang jor-joran oleh perusahaan tambang serta maraknya pemberian ijin.
Bicara soal tambang tak lepas dari soal perijinan dan undang-undang yang mengaturnya, Indonesia telah memiliki UU Pertambangan Umum sejak tahun 1967. Setelah kontrak dengan Freeport ditandatangani, UU Indonesia banyak memberikan kemudahan pada perusahaan asing.
Selain kemudahan yang diberikan pada perusahaan tambang asing, juga terjadi tumpang tindih dalam pemberian ijin kepada perusahaan tambang. Tumpang tindih konsesi bukan hanya dengan bidang kehutanan, juga antara perusahaan tambang itu sendiri.
“Dulu ijin dikeluarkan oleh pemerintah pusat, sekarang pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten) bisa mengeluarkan ijin untuk konsesi tambang. Di Kalimantan (bagian Indonesia) telah diterbitkan lebih dari 2.475 ijin tambang. Sedangkan di Kalimantan Timur, yang luasnya 19,88 juta ha memiliki konsesi sektoral seluas 21,7 juta ha. Ada 1.271 ijin tambang di sana mencakup luasan 4,4 juta ha, sekitar 22,1 % dari luas provinsi. Separuh ijin di Kalimantan Timur ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Di Samboja ada 90 ijin perusahaan tambang. Kini, 71% luas Kota Samarinda adalah kawasan tambang,” lanjut Mai, menyinggung pemberian ijin oleh pemerintah daerah. Tak heran Samarinda kini seringkali dilanda banjir.
Mai lalu memunculkan peta tutupan lahan hutan di Papua, kemudian ditumpangtindihkan dengan penyebaran Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) , HTI, Perkebunan dan Pertambangan. Hasilnya,..... tak banyak lagi hutan alam yang tersisa di sana.
“Banyak anggota TNI dikirimkan ke Papua, bukan untuk menjaga keamanan Papua, tapi untuk menjaga investasi perusahaan tambang,” tambah Mai menyinggung konflik di Papua. Investasi perusahaan tambang asing yang makin merajalela di wilayah Indonesia, juga peluang korupsi. Karena ijin tersebut bukan jadi alat regulasi, tapi menjadi alat transaksi.
Mai juga menyinggung bahwa sebuah Negara sesungguhnya terdiri atas pemerintah, wilayah dan warga negara. Wilayah bersama sumber daya alam (SDA) di dalamnya yang merupakan ruang dan sumber hidup warga negara, telah bergeser menjadi paradigma sempit dipandang sebagai komoditas penghasil devisa. Akibatnya, tiap periode pemerintah berlomba melakukan “keruk habis, jual cepat” SDA, lewat kebijakan instan dan praktek yang tidak dikontrol. Akibatnya konflik dan korupsi menjadi sebuah keniscayaan di sekitar kawasan kaya sumber daya alam, khususnya pertambangan.
Negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak dan mineral cenderung memiliki tingkat korupsi sangat tinggi, pemerintahan yang otoriter, tingkat kemiskinan dan kematian anak tinggi, ketidakadilan pemerataan ekonomi serta rentan terhadap kerapuhan ekonomi (Extractive Industry and the Poor, 2001, Oxfam Amerika).
Tambang adalah kegiatan rakus lahan, alat-alat negara dimobilisasi untuk pembebasan lahan. Penggusuran lahan, pengusiran hingga “relokasi” terjadi hampir di semua lokasi tambang. Contohnya, kasus pembakaran 500 lebih pondok Pangerebo di Kawasan PT IMK Kalteng; pembebasan lahan oleh British Petroleum di Kampung Tanah Merah Teluk Bintuni Papua dihargai Rp15,- per meter, setelah konflik harganya baru dinaikan menjadi Rp 50,- per meter.
Keadaan di atas diperburuk dengan adanya dokumen AMDAL yang kualitasnya tidak memadai. Walaupun sudah ada 9.000 dokumen AMDAL yang disetujui oleh pemerintah, namun tidak menjamin mengurangi kerusakan lingkungan. Dari 474 kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2008, baru terdapat 119 Komisi Penilai AMDAL, itupun yang berfungsi hanya 50% saja. Sedangkan sekitar 75% mutu dokumen AMDAL berkualitas buruk hingga sangat buruk (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008).
Data lain yang menarik adalah, “Dari sekitar 8.000 ijin pertambangan, 75%nya tumpang tindih dengan peruntukan lain”, (Hatta Rajasa, Mei 2011).   “Hingga Februari 2012 telah menjadi 9.700 perijinan”, (peneliti Demos 2012).
Sifat pertambangan itu sendiri adalah, 1. tak terbarukan; 2. berumur pendek; 3. berdaya rusak (rakus lahan, air energi, limbah yang jumlahnya masif); 4. Orientasi Ekspor
Sejauh ini praktek kegiatan tambang, banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan dan tidak ada pengawasan dari pemerintah. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari banjir, penghancuran hutan, pelenyapan lahan pangan, sampai pencemaran di badan-badan air. Bayangkan, untuk menghasilkan 1 gram emas maka akan menghabiskan :
  • Lebih dari 100 liter air
  • 2,1 ton limbah batuan dan tailing
  • 5,8 kg emisi beracun: 260 gr timbal, 139 gr arsen, 6,1 gr merkuri & 3 gr sianida
  • 10% energi dunia digunakan industri tambang.
Pengawasan juga sangat lemah saat penutupan tambang dan pelaksanaan reklamasi dilakukan secara asalan. Tidak ada jaminan pemulihan sosial dan lingkungan atas lahan bekas penambangan, dan meninggalkan “danau-danau” buatan terbuka tanpa pengamanan yang tak jarang memakan korban jiwa.
Banyak daerah di Indonesia yang kaya sumber daya alam tambang, tetapi masyarakat di daerah tersebut hidupnya jauh dari cukup. Sebagai contoh di Kalimantan. Lebih dari 200 juta ton batubara yang dikeruk dari bumi Kalimantan, hanya 2% nya saja yang digunakan penduduk Kalimantan. 20-30% di antaranya untuk pasokan di Sumatera dan Jawa, sisanya di ekspor ke Jepang, Cina, Amerika dan Eropa.
Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat sipil?
  • Melaporkan penggusuran lahan
  • Melaporkan pencemaran dan perusakan lingkungan serta terlibat dalam tim pemerintah
  • Melaporkan tumpang tindih lahan
  • Mengawal perubahan PP2/2008 menjadi UU No. 19/2004
  • Memperkarakan ke Mahkamah Konstitusi
  • Memfasilitasi dialog-dialog
  • Lomba investigasi korupsi
Apakah hasil di atas cukup efektif? “Belum, kalau hanya segelintir orang saja yang melakukan.... tapi kalau seluruh kelompok masyarakat peduli dan mau bergerak bersama, bukan mustahil akan ada perubahan yang signifikan dari praktek pertambangan ini,” pungkas Mai menutup acara Obrolan Sabtu Seru. [irma dana & jeni shannaz]
Obrolan Sabtu Seru, 11 Februari 2012
Nara sumber:  Siti Maimunah (Jaringan Advokasi Tambang)
Share:

From Nothing, To Be Something



Seekor  kupu-kupu cantik baru bisa terbang dengan cantik setelah melalui sebuah perjuangan yang cukup berat dan dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam sebuah metamorfosis yang luar biasa. Bermula dari ulat, kepompong kemudian pelan-pelan ulat berusaha sekuat tenaga keluar dari lubang kecil. Melaluai lubang kecil, sayap kupu-kupu mulai terbang sempurna. Ia dapat terbang dan memperolah kebebasannya. Tanpa disadari, ulat telah menjadi kupu-kupu cantik sesuai warnanya.

Layaknya kupu-kupu, manusia tidak hanya sekedar mengikuti siklus kehidupan yang telah ada. Artinya, manusia harus dapat mengambil titik baik dalam sebuah kehidupan untuk berubah kearah yang lebih baik. Dalam metamorfosa, manusia diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih. Apakah manusia akan memilih untuk menjadi fujur (pendosa) atau menjadi takwa. Tulan telah mendorong kepada manusia untuk membersihkan jiwanya agar mendapat keberuntungan di duina dan di akhirat. Dalam hidup ini banyak sekali pilihan, jika kita ingin memperoleh atau menjadi takwa, maka kita harus pintar-pintar memanfaatkan potensi yang diberikah Tuhan kepada kita.

Perjalanan hidup manusia dari masa pertengahan remaja sampai menginjak masa remaja akhir adalah gerbang menuju kedewasaan. Di masa ini manusia digembleng menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, baik itu memalui pendidikan formal (SM-PT) ataupun memlaui pendidikan nonformal lainnya. Selain kegiatan akademik, kegiantan nonakademik lainnya juga membantu membentuk karakter yang matang, dewasa dan siap menghadapi tantangan hidup. Tidak hanya sekedar melakukan hura-hura menikmati masa muda. Remaja diharapkan bisa memanfaatkan masa mudanya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Jadikan masa muda yang sedang dijalani bisa berarti bagi diri sendiri maupun orang lain, sehingga kita menjadi to be something. Kita harus menyadari banwa proses yang sedang kita jalanai merupakan proses metamorfosa. Kesabaran dan kehati-hatian sangat diperlukan pada proses ini.

Agar menjadi manusia seutuhnya (insanul kamil), kita harus mempersiapkan planning dalam hidup untuk menghadapi hari esok. Jika ada seorang remaja akhir yang masih ikut-ikutan (belum bisa menentukan sikap) menghadapi pergulatan dunia yang begitu bebas, saya katakan bahwa remaja tersebuat gagal memalui proses metamorfosa. Metamorfosa bukan sekedar kata, butuh tindakan dan motivasi kuat untuk melewatinya. Butuh tahapan-tahapan perjuangan yang berat sehingga ia memiliki kualitas memadai. Tuhan menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya. Sesengguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya."

(Q.S Asy-Syams: 7-10)

Dimasa remaja akhir, manusia bebas menentukan sikap, tetapi bukan berarti sebebas-bebasnya tanpa ada aturan. Di sana harus ada aturan yang harus dipenuhi. Ada beberapa hal yang perlu disadari oleh manusia yang sedang melakukan metamorfosa:

1. Menetapkan Tujuan Hidup
Sebagai maluk ciptaan Tuhan hendaknya kita menyadari tujuan hidup yang sedang dijalani. Mendapakan kebahagiaan dunia dan akhirat serta memperoleh ridho-Nya adalah dambaan setiap manusia. Kemana arah yang dituju harus jelas. Bisa kita analogikan bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang terdekat untuk memperolah kebahagiaan dan penyempurnaan. Jadi jelas, bahwa Tuhan adalah tujuan akhir setiap manusia.
2. Temukan Jalannya
Untuk mencapai tujuan hidup yang dimaksud, kita harus mengetahuai memalui apa kita menjalaninnya. Hendaknya manusia menyiapkan alat untuk membantu kesuksesaan yang dinginkan. Lingkungan tidak memaksa kita harus seperti apa dan menjadi apa. Kita sendiri yang akan menentukan siapa diri kita. Selain teman yang bisa membantu menemukan jalan, secara pribadi, kita harus berusaha melalui tahapan metamorfosa secara mandiri dan disertai kehati-hatian, sehingga hasil yang diharapkan bisa optimal. Mulailah berazam mencoba merubah diri menjadi kupu-kupu yang cantik yang disenangi banyak orang, mencari jalan yang diridhoi-Nya dengan melaksanakan ajaran Al-Qur’an dan sunnah rasul-Nya.

3. Beramal

Melakukan amal dengan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki sebagai manusia ciptaan Tuhan, sehingga kita bisa menjadi 
to be something yang diharapkan sejak awal. Amalan yang dilakukan tidak serta-merta menjadikan kita manusia yang hebat, ada tahapan-tahapan yang mesti dilalui. Selangkah demi selangkah menapaki jalan yang penuh liku. Dengan mengoptimalkan potensi yang ada, maka akan tercipta pribadi yang seutuhnya. Manusia tidak boleh membiarkan dirinya terjerumus kepada kenistaan, senantiasa ia membekali diri dengan supelmen ilahiyyah (ketuhanan) yang menyebabkan ia meraih hidup yang barokah. Dengan semboyan “Aku pikir, Aku rasa, maka Aku bisa”. Yakinlah, bahwa dirinya akan menjadi manusia utuh tanpa harus terombang-ambing oleh arus.

Menjadi aktivis akan membantu melatih kita untuk menghadapi kegagalan-kegagalan hidup, pengalaman demi pengalaman bisa didapatkan di dalamnya. Proses pendidikan baik forman maupun non formal sanggat membantu membentuk karakter. Siapapun yang sedang menjalanai proses metamorfosa dengan manjadi kaum pelajar hendaknnya memanfaatkan waktunya dengan optimmmal. Gunakan kesempatan study ini sekaligus aktif di organisasi. Karena aktif diorganisasi bisa melatih kita menjadi manusia dewasa. Pribadi dewasa yang berhasil memalui proses metamorfosa tentunya menyadari ada hikmah di balik sebauh proses, ia tidak menyesal telah melewati proses yang begitu rumit nan melelahkan. Akan tetapi sebaliknya, ia menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah menghadapi cobaan serumit apapun. 
Kupu-kupu yang cantik dan indah itu tentunya akan berusaha untuk menjadi to be something.
Share:

Lampu Warna Biru, Pengusir Kantuk Pengganti Kopi yang Tak Pakai Beser


Kopi terbukti paling ampuh untuk mengusir rasa kantuk. Namun efek samping kopi kurang disukai para pengendara mobil karena bikin beser dan harus sering-sering berhenti mencari toilet. Alternatifnya, pasang saja lampu biru di kabin.

Para ilmuwan di Universite Bordeaux Segalen baru-baru ini membuktikan nyala lampu berwarna biru sama manjurnya dengan efek kafein dalam kopi dalam mengusir kantuk. Tentunya tanpa disertai beser atau sering buang air kecil seperti yang terjadi usai minum kopi.

Temuan ini diharapkan bisa menginspirasi desain mobil atau kendaraan yang lebih aman di masa mendatang. Dengan memasukkan lampu berwarna biru sebagai bagian dari desain interior mobil moderen, maka angka kecelakaan akibat pengemudi mengantuk diharapkan akan berkurang.

Eksperimen terhadap 48 pengemudi yang menempuh jarak 400 km menunjukkan, tingkat kesalahan yang dilakukan pengemudi berkurang berkat lampu biru. Pelanggaran marka jalan dilakukan 15 kali oleh pengemudi yang terpapar lampu biru, 13 kali pada pengemudi yang minum kopi dan 26 kali pada pengemudi yang tidak mendapat apa-apa.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE ini membuktikan bahwa warna biru bisa meningkatkan kewaspadaan dengan merangsang sel-sel ganglion retina. Dikutip dari Daily Mail, Kamis (29/11/2012), sel-sel tersebut terdapat pada retina yakni lapisan yang terletak di bagian belakang bola mata.

Sel-sel ganglion retina tersebut juga terhubung dengan saraf-saraf kesadaran. Oleh karena itu, rangsang di bagian ini bisa menungkatkan sekresi atau pelepasan melatonin yakni hormon yang membuat orang bisa terjaga dan tetap awas sepanjang malam.

Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sepertiga korban kecelakaan di jalan raya berhubungan dengan rasa kantuk. Gara-gara mengantuk, pengemudi bisa kehilangan kewaspadaan, kemampuan refleks dan persepsi visual dalam arti penglihatannya menurun.(up/vit)
sumber: health.detik.com
Share:

Berubah Menjadi Pribadi Yang Luar Biasa

Saudara yang gemar atau pernah mengemari film kartun Ultraman pasti kenal dengan selogan tersebut. Yap…! Berubah merupakan suatu trasformasi dari sebuah kondisi menuju kondisi yang lainnya.

Seperhi halnya Ultraman yang berubah dari sosok manusia biasa menjadi ‘Super Hero’ yang luar biasa, hendaknya kita juga bisa berubah dari pribadi yang biasa menjadi pribadi yang luar biasa. Kemudian akan muncul pertanyaan, bagaimana sih agar kita bisa berubah menjadi luar biasa…? Sebelum kita membahas jawabannya, ada baiknya kalau kita tilik dulu sepenggal kisah kehidupan berikut.

Alkisah ada sebuah batu bata yang kini dia sudah sangat siap untuk ditata dan menjadi salah satu elemen pembentuk suatu bangunan. Sebelumnya, ternyata sungguh sangat berat fase yang harus dilalui. Dia diadopsi dari rahim ibunya, tanah liat berkualitas bagus melalui seleksi yang ketat dari sang pengrajin batu bata. Kemudian diproseslah dia, dengan proses yang mungkin sangat menyakitkan. Di diinjak-injak, dipukul-pukul, disiram air, dicukil batu krikil yang melekat juga kotoran-kotoran lainnya. Setelah itu, barulah dia bisa dicetak setelah sebelumnnya diuji kelayakannya untuk bisa dicetak. Penderitaan belum selesai, setelah dicetak, fase berikutnya telah menunggu yaitu dia harus dijemur, bergulat dengan panas matahari hingga kering. Tak hanya di situ rupanya fase yang harus dia tempuh, setelah kering kini dia harus dibakar..! Nah kini dia telah menjadi batu bata sejati yang siap bermanfaat untuk mahluk lain. Dia siap menjadi elemen pembentuk bangunan yang kokoh.

Saudara, dari cerita tadi kira-kira hikmah apa yang bisa kita mabil? Benar, dalam bermetamorfosa akan banyak sekali fase kehidupan yang kita lalui. Semua harus siap dengan segala kemungkinan terbuaruk dan menyakitkan dari fase-fase yang akan kita tempuh demi mencapai perubahan yang lebih baik.

Lalu bagaimana agar kita bisa melalui fase-fase tersebut dengan sukses dan mencapai hasil yang terbaik? Kuncinya adalah, kita harus tahu dan paham tentang ilmunya yang benar, lalu kita harus giat belajar dan berlatih dengan telaten, serta banyak-banyak memohon kepada-Nya.

Saudara, perubahan adalah siklus yang harus kita jalanai dalam hidup ini, satu hal yang harus kita catat dan jalanai bersama adalah kita harus menempuh siklus hidup ini demi menuju ke arah yang lebih baik agar kita termasuk orang-orang yang beruntung, seperti yang telah Rasulullah SAW sabdakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, terus kalau orang yang hari ini sama dengan hari kemarin dia dalah orang yang merugi, sedangkan hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia dalah orang yang celaka.

Baca Juga artikel ini “METAMORFOSA “From Nothing, To Be Something”


Share:

Sepuluh Kepribadian Orang Sukses

“The best way to predict the future is to create it.” – Alan Kay

Suatu KESUKSESAN memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya. Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri.

Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut:

Satu, keberanian untuk berinisiatif. 
Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.

Dua, tepat waktu. Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.

Tiga, senang melayani dan memberi. Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.

Empat, membuka diri terlebih dahulu. Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.

Enam, senang mempelajari hal-hal baru. Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.

Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).

Delapan, berani menanggung resiko. Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.

Sepuluh, “comfortable in their own skin” Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!

Sumber: http://charlybuchari.wordpress.com/
Share:

Pendidikan Nasional Yang Bermoral

Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.


Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?

Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.

PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.

Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.

Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).

Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.

Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.

Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas.

Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.

Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya?Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?

Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.

Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja.

Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan.

PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU
Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.

Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.

Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?

Harapan
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.

Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan.

Sumber: http://re-searchengines.com/amukminin.html 
Share:

Sabtu, 12 Januari 2013

Dampak Keyboard QWERTY pada Makna Kata


Pakar psikologi sosial di New School for Social Research mengatakan bahwa kesulitan dalam menggunakan obyek tertentu berpengaruh pada cara orang menilai obyek tersebut.
Salah satu contoh adalah nama orang. Dikatakan bahwa semakin sulit seseorang melafalkan nama orang lain, seseorang tersebut akan semakin sulit menilai orang itu secara positif.
Kini, ada contoh kasus baru yang dikaji peneliti. Dikatakan bahwa semakin sulit seseorang mengetik suatu kata di keyboard, maka semakin negatif pula makna kata itu.



Kyle Jasmine dan Daniel Casasanto dari University of College London meneliti tentang QWERTY effect, dampak pada makna kata yang dihasilkan ketika orang mengetik dengan keyboard QWERTY.
Jasmine mengungkapkan, kata-kata yang dengan huruf lebih banyak di sebelah kanan keyboard QWERTY (sebelah kanan T, G, dan B) memiliki makna lebih positif.
Contohnya, kata "POOL" yang berarti kolam memiliki makna lebih positif daripada kata "DESERT" yang berarti gurun. Contoh lain adalah kata "IKAN" dan "DERAS".

Menurut Jasmine, hal itu terkait dengan kemudahan mengetik. Lebih mudah bagi manusia untuk mengetik huruf di sebelah kanan keyboard QWERTY daripada yang ada di sebelah kiri.
"Jika mudah, maka cenderung memiliki makna positif. Jika sulit, maka akan sebaliknya," ungkap Jasmine seperti dikutip Wired pada Rabu (7/3/2012).
Faktor yang semakin mendukung hasil penelitian tersebut adalah huruf yang terkesan padat di sebelah kiri sehingga semakin menyulitkan pengetikan. Orang juga cenderung mengetik huruf di sebelah kanan lebih cepat.

Dalam eksperimen, Jasmine menganalisis 1.000 kata dalam bahasa Inggris, Spanyol, dan Belanda. Ia menemukan bahwa QWERTY effect memang terbukti.
Dalam eksperimen lain, 8.000 juru ketik juga diminta Mechanical Turk Service di Amazon.com untuk memberi kesan atas sebuah kata yang dihasilkan keyboard QWERTY. Hasilnya juga serupa.
Jasmine menuturkan, "Ini adalah demonstrasi pertama yang menunjukkan bagaimana kata-kata membentuk makna dalam waktu tertentu." Apakah Anda percaya efek QWERTY ini?

sumber : kompas
Share:

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.